Batammediaindonesia.com, Jepang — Sampah yang selama ini menjadi persoalan perkotaan mulai dilirik sebagai sumber energi baru bagi Batam. Badan Pengusahaan (BP) Batam menawarkan pengembangan waste to energy (WtE) kepada calon mitra di Jepang, menyusul potensi pengolahan sekitar 1.205 ton sampah per hari menjadi energi listrik.
Peluang tersebut dibahas BP Batam dalam gelaran Asia Pacific Circular Cities (APCC) 2026 yang berlangsung di Yokohama, Jepang, pada 3–4 September 2026. Forum ini menjadi momentum bagi BP Batam untuk memperkenalkan potensi sekaligus kebutuhan pengembangan proyek WtE di Batam kepada sejumlah pihak yang memiliki pengalaman dalam pengelolaan sampah dan energi terbarukan.
Dalam forum tersebut, Anggota/Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menjadi narasumber sekaligus panelis pada sesi bertajuk “Developing a Bankable Waste to Energy Project in Batam: Challenges, Lessons and Partnership Opportunities” pada 4 September 2026.
Ariastuty tampil bersama perwakilan World Bank, JFE Engineering Corporation, serta Pemerintah Kota Makassar. Pembahasan tidak hanya menyoroti persoalan sampah, tetapi juga bagaimana potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi proyek energi terbarukan yang layak secara teknis maupun investasi.
BP Batam dalam kesempatan tersebut membuka peluang kerja sama dengan calon mitra untuk penyusunan feasibility study (FS) atau studi kelayakan sebagai tahapan awal pengembangan proyek WtE di Batam.
Penyusunan FS nantinya akan dikoordinasikan BP Batam bersama kementerian dan lembaga terkait agar rencana pengembangan proyek memiliki dasar kajian yang komprehensif.
“Dengan jumlah sampah yang mencapai 1.205 ton per hari, Batam memiliki potensi untuk mengembangkan waste to energy. Karena itu, kami menawarkan FS sebagai langkah awal agar proyek ini memiliki dasar kajian yang jelas dan dapat dikembangkan lebih lanjut,” kata Ariastuty.
JFE Engineering Tertarik Datang ke Batam
Peluang tersebut mendapat respons awal dari JFE Engineering Corporation, salah satu perusahaan Jepang yang memiliki pengalaman di bidang pengelolaan lingkungan dan teknologi energi.
Usai sesi presentasi, BP Batam langsung menggelar pertemuan dengan JFE Engineering untuk membahas lebih jauh peluang pengembangan WtE di Batam.
Dalam estimasi awal yang disampaikan JFE Engineering, volume sampah Batam berpotensi menghasilkan listrik sekitar 20 megawatt (MW).
Dengan kapasitas tersebut, energi listrik yang dihasilkan secara estimasi dapat memenuhi kebutuhan sekitar 20.000 rumah.
Meski demikian, angka tersebut masih merupakan estimasi awal. Diperlukan kajian teknis, finansial, lingkungan, serta berbagai aspek pendukung lainnya untuk memastikan kelayakan dan skema pengembangan proyek WtE di Batam.
Ketertarikan JFE Engineering kemudian berlanjut dengan rencana kunjungan ke Batam untuk melihat secara langsung peluang pengembangan proyek tersebut.
Dalam pembahasan lanjutan, PT PLN (Persero) juga akan dilibatkan sebagai pihak yang nantinya berpotensi membeli listrik yang dihasilkan dari proyek WtE.
Langkah ini menjadi bagian penting untuk memastikan pengembangan proyek tidak hanya berhenti pada konsep, tetapi dapat diarahkan menuju proyek yang memiliki skema bisnis dan investasi yang jelas.
Buka Peluang Kerja Sama dengan Yokohama
Selain menawarkan peluang pengembangan energi dari sampah, kehadiran BP Batam dalam APCC 2026 juga dimanfaatkan untuk membuka kembali peluang kerja sama dengan Pemerintah Kota Yokohama.
Pada 3 September 2026, BP Batam bertemu dengan Wakil Wali Kota Yokohama. Pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama antara Yokohama dan Kota Batam, khususnya dalam berbagai bidang yang dapat mendukung pengembangan kota dan peningkatan kualitas layanan perkotaan.
APCC 2026 sekaligus menjadi ruang bagi BP Batam untuk memperluas jejaring kerja sama internasional, terutama pada sektor energi terbarukan, circular economy, teknologi, lingkungan, dan investasi.
Melalui pendekatan tersebut, persoalan sampah di Batam diharapkan tidak hanya dilihat sebagai tantangan yang harus ditangani, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
“Kami berharap ketertarikan ini dapat ditindaklanjuti dengan pembahasan yang lebih konkret di Batam. Yang kami dorong adalah, bagaimana sampah dapat diolah menjadi energi terbarukan dan memberikan manfaat bagi Kota Batam, serta mendorong keterlibatan langsung masyarakat dari hulu ke hilir,” tutup Ariastuty.
Turut hadir dalam rangkaian pertemuan tersebut, Direktur Pengendalian Investasi BP Batam Yani Alkindi, Direktur Lingkungan Hidup dan Kehutanan Hadjad Widagdo, serta Kepala Biro Keuangan Siswanto.
